Sebanyak 261 pelajar dan santri di Mojokerto, Jawa Timur, diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (), dengan ratusan di antaranya masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan. Operasional dapur MBG pun dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi.
Dilanisr , Senin (12/1/2026), Pemkab Mojokerto telah membuka Posko Layanan Kesehatan di Pondok Pesantren Ma’had An Nur, Dusun Jurangrejo, Desa Singowangi, Kutorejo, Mojokerto pada Sabtu (10/1). Posko ini menjadi pusat penanganan pelajar dan santri yang mengalami gejala mual, muntah, pusing, demam, dan diare.
“Total yang ditangani melalui posko 261 anak. Posisi pasien yang pulang atau rawat jalan 140 anak, dirawat di rumah sakit dan Puskesmas 112 anak, dirawat di posko 9 anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati kepada infoJatim, Minggu (11/1).
Dyan memastikan jumlah korban berpotensi lebih dari 261 orang karena sebagian pasien datang langsung ke fasilitas kesehatan, antara lain Puskesmas Pacet, Gondang, Kutorejo, RSUD Prof dr Soekandar, RS Sumberglagah, RS Kartini, RS Mawaddah Medika, serta RSI Arofah.
Keracunan massal ini diduga terjadi setelah para pelajar dan santri menyantap MBG menu soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo, Mojokerto, pada Jumat (9/1) siang. Gejala mulai dirasakan pada Jumat malam hingga Sabtu pagi.
Korwil BGN Mojokerto Rosidian Prasetyo menjelaskan, dapur MBG tersebut melayani 2.679 siswa dari 20 lembaga pendidikan.
Menurutnya, penghentian operasional dilakukan sampai investigasi selesai.
“Senin besok kami pastikan off, surat penghentian operasional SPPG (Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah) sudah turun kemarin malam dari BGN,” ucap Rosidian kepada infoJatim.
“Kalau dirasa melanggar aturan yang ada, pasti kami tutup permanen. (Apabila ada unsur pidana?) Apabila nanti ada anomali yang merujuk ke (kesalahan) SDMnya, ada temuan, ada bukti, kami proses dengan hukum yang ada,” imbuhnya.
Simak selengkapnya .







