Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap sebanyak 12.658 anak mengalami keracunan akibat program (MBG). Data tersebut dihimpun sejak Januari hingga Desember 2025.
“Berdasarkan monitoring media, sepanjang tahun 2025 tercatat 12.658 anak mengalami kasus keracunan MBG di 38 provinsi,” kata Wakil Ketua KPAI Jasra Putra dalam pemaparan Laporan Akhir Tahun (LAT) di Kantor KPAI, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Jasra memerinci tiga provinsi dengan jumlah korban tertinggi. Provinsi-provinsi tersebut adalah Jawa Barat dengan 4.877 anak, Jawa Tengah dengan 1.961 anak, dan 1.517 anak di Daerah Istimewa Yogyakarta yang keracunan MBG sepanjang tahun 2025.
KPAI telah melakukan serangkaian survei untuk menjaring keluhan dari para siswa terkait program MBG. Survei tersebut menunjukkan mayoritas siswa mengeluh soal rasa makanan, dan sebagian di antaranya mempertanyakan kelayakan makanan tersebut.
“Dari 1.600 survei yang diisi oleh anak-anak SD, SMP, SMA, memang temuan yang paling banyak disampaikan atau keluhan yang paling banyak disampaikan oleh anak-anak adalah soal rasa. Itu hampir 90 persen mereka mengeluhkan soal rasa,” ujarnya.
“Kemudian hampir 36 persen mereka mempersoalkan soal kelayakan makanan. Jadi mereka misalnya menemukan makanan yang berbau, kemudian tidak layak konsumsi dan bahkan sudah busuk,” sambungnya.
Dengan banyaknya kasus keracunan MBG, KPAI memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah, dalam hal ini Badan Gizi Nasional (BGN). Rekomendasi tersebut di antaranya berupa penguatan tata kelola program dan pelibatan anak secara bertahap.
“Pelibatan bermakna anak sekolah dalam semua proses makan dan gizi gratis mulai dari perencanaan menu, pemberian edukasi gizi dengan pendekatan teman sebaya, hingga evaluasi pelaksanaan MBG di sekolah melalui mekanisme diskusi maupun survei umpan balik yang bisa memberikan rasa aman kepada murid,” imbuhnya.
Simak juga Video Target Penerima MBG Mau Diperluas, YLKI: Kenapa Gak Evaluasi Dulu?







