Sejumlah personel tentara telah diminta untuk meninggalkan pangkalan militer Al Udeid di . Dua sumber diplomatik mengatakan negara Teluk itu mengungkapkan ketegangan regional adalah alasan di balik langkah tersebut.
Dilansir AFP, Rabu (14/1/2025), keputusan ini diambil setelah Washington mengancam akan menanggapi tindakan keras pemerintah Iran terhadap protes, sementara Teheran mengatakan akan menyerang aset militer dan perkapalan AS jika terjadi serangan baru.
Langkah tersebut diambil “sebagai tanggapan terhadap ketegangan regional saat ini,” kata Kantor Media Internasional Qatar dalam sebuah pernyataan.
“Qatar terus menerapkan semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan, termasuk tindakan yang berkaitan dengan perlindungan infrastruktur penting dan fasilitas militer,” tambahnya.
Sebuah sumber diplomatik mengatakan kepada AFP sebelumnya bahwa sejumlah personel diminta untuk meninggalkan pangkalan tersebut pada Rabu (14/1) malam. Sumber kedua mengkonfirmasi informasi tersebut, juga dengan syarat anonim.
Kedutaan Besar AS di Qatar menolak untuk berkomentar tentang pergerakan personel di Al Udeid.
Pada bulan Juni, Iran menargetkan pangkalan militer Al Udeid milik Amerika Serikat di Qatar sebagai tanggapan atas serangan Amerika sebelumnya terhadap fasilitas nuklir Iran.
Ali Shamkhani, penasihat senior pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan Presiden AS Donald Trump bahwa serangan terhadap pangkalan tersebut telah menunjukkan “kemauan dan kemampuan Iran untuk menanggapi serangan apa pun”.
Doha mampu memanfaatkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayahnya untuk membantu mewujudkan gencatan senjata yang cepat antara Washington dan Teheran.
Washington telah berulang kali mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan serangan udara terhadap Iran untuk menghentikan penindasan terhadap para demonstran. Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CBS News bahwa Amerika Serikat akan bertindak jika Iran mulai menggantung para demonstran.
Otoritas Iran menyebut peringatan Amerika sebagai “dalih untuk intervensi militer”.
Protes massal di Iran sejak Kamis telah menimbulkan salah satu tantangan terbesar bagi kepemimpinan ulama sejak revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah.
LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mengatakan telah mengkonfirmasi 734 orang tewas selama protes, termasuk sembilan anak di bawah umur, tetapi memperingatkan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan jauh lebih tinggi.
“Jumlah sebenarnya korban tewas kemungkinan mencapai ribuan,” kata direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam.
Washington telah berulang kali mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan serangan udara terhadap Iran untuk menghentikan penindasan terhadap para demonstran. Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CBS News bahwa Amerika Serikat akan bertindak jika Iran mulai menggantung para demonstran.
Otoritas Iran menyebut peringatan Amerika sebagai “dalih untuk intervensi militer”.
Protes massal di Iran sejak Kamis telah menimbulkan salah satu tantangan terbesar bagi kepemimpinan ulama sejak revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah.
LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mengatakan telah mengkonfirmasi 734 orang tewas selama protes, termasuk sembilan anak di bawah umur, tetapi memperingatkan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan jauh lebih tinggi.
“Jumlah sebenarnya korban tewas kemungkinan mencapai ribuan,” kata direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam.







