Polisi menyebut, pada libur Natal dan tahun baru (Nataru) tahun ini, situasi arus lalu lintas di Jalan Raya , Bogor, Jawa Barat, relatif terkendali. Tidak ada kemacetan hingga kendaraan terjebak berjam-jam.
Kasat Lantas Polres Bogor AKP Rizky Guntama menjelaskan metode yang digunakan oleh jajarannya. Pertama, dia menggunakan data penghitungan melalui gerbang tol.
“Kalau polanya sekarang, karena memang kita melihat dari counting GT (gerbang tol), di mana ada indikator yang sudah kita hitung,” kata Rizky, Sabtu (3/1/2026).
Dia mengatakan polisi memiliki indikator yang menjadi pertanda rekayasa lalu lintas sistem satu arah arah one way dilakukan. Apabila sudah menunjukkan warna kuning atau mendekatinya, persiapan dilakukan.
“Bilamana memang sudah memasuki hitungan dalam indikator sudah menandakan warna kuning, kami sudah mempersiapkan untuk melaksanakan rekayasa lalu lintas,” ungkapnya.
Karena itu, sebelum antrean kendaraan menjadi lebih panjang, rekayasa lalu lintas sudah diberlakukan. Itu yang pada tahun-tahun sebelumnya belum dilakukan.
“Jadi memang sebelum mereka mengekor lebih panjang, sudah kita laksanakan lebih awal dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jadi by data, by jumlah data (perhitungannya),” ungkapnya.
Apabila jumlah kendaraan yang menuju Puncak via GT Ciawi sebanyak 2.500, persiapan one way dilakukan. Namun penglihatan visual juga dilakukan.
“Bilamana ekornya masih kosong, mungkin masih bisa kita pending untuk rekayasanya. Tetapi, kalau yang di atas sudah mulai padat, dalam artian mungkin di Pasar Cisarua-nya sudah ekornya panjang, mulai sudah dilaksanakan rekayasa walaupun di bawah, di Gadog, masih terlihat lengang,” bebernya.
Selama Operasi Lilin, sebanyak 50 ribu kendaraan rata-rata melintas di Puncak per hari. Jumlah tersebut merupakan akumulasi yang naik dan yang turun.
“Kurang lebih di 50 ribu untuk total naik-turun, kurang lebih di 50 ribu kendaraan yang naik-turun untuk roda empat ke atas,” pungkasnya.







