China Catat Surplus Perdagangan Meski Digempur Tarif AS

Posted on

Cina mencatatkan kinerja ekspor yang kuat sepanjang 2025. Surplus perdagangan dikabarkan mencapai rekor USD1,2 triliun atau sekitar Rp20.000 triliun. Lonjakan ini terjadi ketika para produsen Tiongkok mengalihkan pasar ekspor ke luar Amerika Serikat, menyusul lonjakan tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump.

Data bea cukai menunjukkan surplus global Cina naik 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$992 miliar. Sepanjang 2025, nilai ekspor Cina mencapai US$3,7 triliun, sementara impor tercatat US$2,58 triliun, menurut data pemerintah yang dirilis Rabu (14/1).

Surplus rekor tersebut turut ditopang oleh kenaikan ekspor sebesar 6,6 persen pada Desember 2025 dibandingkan Desember tahun sebelumnya, melampaui proyeksi para ekonom. Pemerintah Cina terus mendorong perdagangan sebagai mesin pertumbuhan di tengah lesunya sektor properti dan lemahnya permintaan domestik.

Namun, surplus yang mencetak rekor ini berpotensi menimbulkan kegelisahan di pasar global, yang sejak lama menyoroti praktik dagang Cina serta tingginya ketergantungan terhadap produk-produk asal negeri itu.

Sementara itu, ekspor mobil Cina dilaporkan melonjak 21 persen sepanjang 2025, didorong meningkatnya pengiriman kendaraan listrik di tengah perlambatan permintaan domestik. Asosiasi industri otomotif Cina mengumumkan data tersebut pada Rabu (14/1).

Seiring agresivitas produsen otomotif Cina menembus pasar luar negeri, ekspor kendaraan energi baru — termasuk mobil listrik dan hibrida plug-in — melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 2,6 juta unit. Data itu dirilis Asosiasi Produsen Otomotif Cina (CAAM).

Secara keseluruhan, ekspor kendaraan Cina menembus 7 juta unit pada 2025, naik 21 persen secara tahunan. Tren ekspor diperkirakan berlanjut tahun ini, seiring produsen berupaya menghindari perang harga yang kian sengit di pasar domestik akibat melemahnya permintaan.

Sepanjang tahun lalu, penjualan mobil penumpang di Cina masih tumbuh 6 persen menjadi 24 juta unit. Namun, penjualan pada Desember anjlok 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah sempat menopang pasar melalui subsidi tukar tambah untuk mendorong peralihan ke kendaraan listrik, tetapi permintaan melambat setelah insentif tersebut dikurangi.

Menghadapi persaingan ketat di pasar dalam negeri yang kian jenuh, pabrikan otomotif Cina mempercepat ekspansi global. Deutsche Bank memperkirakan ekspor mobil penumpang Cina akan tumbuh 13 persen pada 2026. Dalam laporannya, ekonom bank tersebut menilai pasar luar negeri menawarkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi sekaligus pertumbuhan yang lebih cepat bagi produsen Cina.

Dorongan ekspor juga datang dari Eropa. Pada Senin lalu, Cina dan Uni Eropa menyepakati langkah-langkah untuk meredakan sengketa terkait ekspor kendaraan listrik buatan Cina ke kawasan tersebut. Para analis menilai kesepakatan ini berpotensi memacu peningkatan ekspor mobil listrik Cina ke Eropa.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang Cina, Cui Dongshu, memperkirakan ekspor kendaraan listrik Cina ke Uni Eropa akan tumbuh rata-rata sekitar 20 persen per tahun pada periode 2026–2028.

Wakil Menteri Bea Cukai Cina, Wang Jun, mengatakan nilai perdagangan luar negeri pada 2025 menembus 45 triliun yuan — sekitar USD6,4 triliun — untuk pertama kalinya. “Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah,” ujarnya dalam konferensi pers di Beijing.

Wang menyinggung bahwa sejumlah negara telah mempolitisasi isu perdagangan dan membatasi ekspor teknologi tinggi ke Cina. “Jika pembatasan itu tidak ada, impor kami tentu akan lebih besar,” katanya, tanpa secara langsung menyebut tarif Trump. Meski demikian, dia menilai diversifikasi mitra dagang telah memperkuat daya tahan Cina terhadap risiko global.

Pemerintah Cina juga berencana membuka pasar lebih luas pada 2026. Para ekonom menilai langkah ini realistis. Kepala Ekonom Cina BNP Paribas, Jacqueline Rong, memperkirakan ekspor tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan tahun depan.

Sementara itu, ekonom senior Natixis, Gary Ng, memprediksi ekspor Cina akan tumbuh sekitar 3 persen pada 2026, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan sekitar 5 persen pada 2025. Ia memperkirakan surplus perdagangan Cina masih akan bertahan di atas USD1 triliun.

Editor: Yuniman Farid

Geliat ekspor otomotif

Pasar domestik melemah

Cina lebih terbuka di 2026