DKI Jakarta adalah rumah bagi jutaan anak muda yang menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan. Data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2025, mencatat bahwa generasi Z–yang lahir antara 1997 hingga 2012–berjumlah sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94 persen dari total penduduk Indonesia.
Menyusul setelahnya adalah generasi Alpha-lahir setelah 2013-berjumlah 10,88 persen dari total penduduk Indonesia. DKI Jakarta sebagai kota megapolitan menjadi pusat pertemuan generasi ini dengan segala potensi dan problematikanya.
Sayangnya, potensi besar tersebut diiringi oleh ancaman serius berupa degradasi moral, yang puncaknya terjadi ledakan Bom di SMAN 72 Jakarta Utara, pada 7 November 2025 yang lalu, yang dilakukan oleh siswa broken home dan korban bullying. Kasus bullying di DKI Jakarta masih marak terjadi.
Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta mencatat hingga Juli 2025, sudah menangani sebanyak 1.113 kasus kekerasan terhadap anak. Dinas PPAPP DKI Jakarta telah menerima 855 laporan kekerasan perempuan dan anak selama periode Januari hingga Juni 2024.
Fenomena seks bebas tak kalah memprihatinkan. Survei BKKBN (2022) mengungkap sekitar 33 persen remaja perkotaan di DKI Jakarta pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Gaya hidup hedonis juga tercermin dari konsumsi minuman beralkohol, di mana Litbangkes Kemenkes (2023) menemukan 12 persen pelajar SMA di DKI Jakarta pernah minum alkohol.
Di sisi lain, tren keberanian remaja menyatakan identitas LGBT juga meningkat. Laporan Yayasan Pelangi (2022) memperkirakan lebih dari 1.500 remaja di DKI terbuka menyatakan diri sebagai LGBT. Tidak hanya itu, survei Wahid Foundation (2023) menunjukkan 23 persen pelajar SMA di Jakarta memiliki kecenderungan intoleransi terhadap kelompok berbeda agama.
Data ini membentuk gambaran yang jelas: bonus demografi di Jakarta berpotensi menjadi kekuatan, namun tanpa benteng moral, justru bisa berubah menjadi bom waktu demografi
Degradasi moral di kalangan remaja DKI Jakarta tidak lahir begitu saja. Ada beberapa faktor utama yang memengaruhinya. Pertama, urbanisasi membuat DKI Jakarta menjadi kota dengan tekanan sosial tinggi. Persaingan, keterbatasan ruang publik, dan gaya hidup kota besar sering kali mendorong remaja mencari pelarian pada pergaulan bebas. Kedua, derasnya arus digitalisasi membawa dampak ganda.
Media sosial memang membuka ruang kreativitas, tetapi juga memaparkan remaja pada kekerasan verbal, pornografi, hingga normalisasi perilaku menyimpang. Ketiga, keberadaan keluarga dan sekolah sering kali belum berfungsi optimal terhadap pendidikan karakter anak. Banyak keluarga di DKI Jakarta yang lebih sibuk dengan urusan ekonomi, sementara sekolah lebih menekankan pencapaian akademik dibanding pendidikan karakter.
Kondisi ini membuat banyak remaja berada di dalam ruang kosong nilai. Mereka memiliki akses informasi yang hampir tanpa batas, tetapi tidak dibekali kompas moral yang kokoh. Akibatnya, krisis nilai-nilai karakter bangsa, kian tampak di tengah masyarakat. Salah satunya dengan keterlibatan ratusan pelajar SMA/SMK di DKI Jakarta pada aksi demo yang diwarnai aksi anarkisme pada akhir Agustus 2025 yang lalu
Untuk menjawab tantangan ini, dibutuhkan intervensi strategis yang menyentuh akar permasalahan, yaitu pendidikan karakter kebangsaan. Kini, salah satu upaya yang tengah dikembangkan oleh berbagai stakeholder di DKI Jakarta adalah Inovasi Sekolah Laboratorium Pancasila (SLP), yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler untuk jenjang SD, SMP, SMA, SMK/sederajat.
SLP telah diuji coba di SDN Lagoa 07 Jakarta Utara dan SMPN 28 Jakarta Pusat selama -+ 1,5 Tahun, dengan pendekatan multihelix, yang didukung penuh oleh Pemprov DKI Jakarta, Akademisi, BUMD, swasta, dan berbagai tokoh masyarakat. SLP terbukti membawa perubahan positip terhadap karakter pelajar, dengan hasil survey kuantitatif yang didukung oleh BPS RI.
SLP hadir untuk memperkaya Pendidikan Intrakurikuler dan Kokurikuler, yang telah dirumuskan oleh BPIP RI dan Kemendikdasmen RI. Inovasi SLP bertujuan untuk melahirkan Pelajar Berkarakter Kebangsaan, yang dapat memahami arti dan implementasi konkret dari 4 Konsensus Dasar Bangsa dan Bela Negara, serta melatih pelajar untuk dapat mengatasi permasalahan ideologi, kesehatan, sosial, lingkungan hidup dan ekonomi.
Kemenko PMK RI pun memberikan dukungan terhadap uji cob SLP yang juga telah dilakukan pada 28 Sekolah SD dan SMP di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (IKN).
Generasi muda adalah wajah DKI Jakarta masa depan. Jika mereka kehilangan moral, maka bangsa ini akan kehilangan arah. Jika remaja berkarakter kebangsaan, DKI Jakarta akan memiliki identitas karakter kebangsaan yang kuat sebagai Kota Global, dan pada akhirnya DKI Jakarta dapat berkontribusi besar dalam upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Pancasila adalah kompas moral yang tidak pernah lekang oleh zaman. Ia harus ditanamkan bukan hanya dalam kurikulum, tetapi dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari seluruh lapisan masyarakat. Sekolah, keluarga, masyarakat, hingga pemerintah harus bersinergi memastikan nilai-nilai itu hidup, tumbuh, dan berkembang.
Menyelamatkan remaja DKI Jakarta dari krisis moral bukan pilihan, melainkan kewajiban mutlak pemerintah. Kita tidak bisa berdiam diri melihat bonus demografi berubah menjadi bom waktu demografi. Saatnya semua pihak bergerak, karena bangsa besar hanya bisa bertahan jika generasi mudanya memiliki karakter kebangsaan.
Hamry Gusman Zakaria. Praktisi Inovasi Karakter Kebangsaan, Ketua Yayasan Pendidikan Laboratorium Pancasila (YPLP), dan Anggota Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) DKI Jakarta.







