, USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal perang pengawalnya sedang dalam perjalanan menuju dari Laut China Selatan. Ini terjadi di tengah meningkatnya.
Dilansir Al Arabiya, Jumat (16/1/2026), media terkemuka AS, New York Times yang mengutip dua pejabat yang berbicara dengan syarat anonim, melaporkan bahwa kapal induk dan kapal-kapal pengawalnya dapat tiba di wilayah tersebut dalam waktu sekitar satu minggu.
Lebih lanjut, laporan tersebut mengutip para pejabat yang mengatakan bahwa “sejumlah pesawat tempur, kemungkinan termasuk kombinasi jet tempur, pesawat serang, dan pesawat pengisian bahan bakar, diperkirakan akan segera mulai berdatangan ke wilayah tersebut.”
Sementara itu, Pentagon juga mengirimkan peralatan pertahanan udara ke wilayah tersebut, termasuk rudal pencegat, untuk melindungi pangkalan militer di Timur Tengah dan Teluk, “terutama pangkalan udara al-Udaid di Qatar,” tambah laporan New York Times (NYT) tersebut.
“Dua pejabat AS mengatakan peningkatan persenjataan tersebut bertujuan untuk mencegah otoritas melakukan kekerasan lebih lanjut terhadap para demonstran dan untuk memberi Trump lebih banyak pilihan dalam merencanakan serangan apa pun terhadap Iran,” demikian ditulis NYT.
Iran telah menjadi lokasi protes anti-pemerintah besar-besaran selama berminggu-minggu. Menurut kelompok hak asasi manusia, kepemimpinan Iran menindak keras protes tersebut dan telah mematikan internet selama lebih dari seminggu.
Peristiwa tersebut telah menyebabkan ribuan orang tewas dengan jumlah korban pasti yang masih belum diketahui.
Trump telah berulang kali mengancam kemungkinan tindakan militer jika penindakan brutal terhadap para demonstran terus berlanjut.
Trump mengancam bakal “menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah” jika pihak otoritas Iran menindak para demonstran. Trump menambahkan, AS “siap membantu” para demonstran.
Menanggapi ancaman Trump, Iran bersumpah bakal menyerang sekutu dan kepentingan AS di kawasan tersebut. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan demonstrasi tersebut dimanipulasi oleh “musuh-musuh Iran”.
Trump telah berulang kali mengancam kemungkinan tindakan militer jika penindakan brutal terhadap para demonstran terus berlanjut.
Trump mengancam bakal “menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah” jika pihak otoritas Iran menindak para demonstran. Trump menambahkan, AS “siap membantu” para demonstran.
Menanggapi ancaman Trump, Iran bersumpah bakal menyerang sekutu dan kepentingan AS di kawasan tersebut. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan demonstrasi tersebut dimanipulasi oleh “musuh-musuh Iran”.
