Miris Komentar Trump Buntut Penembakan Maut di Minneapolis

Posted on

Presiden Amerika Serikat (AS) mengomentari penembakan di Minneapolis. Dia menganggap Wali Kota Minneapolis menghasut pemberontakan usai penembakan.

Dirangkum infocom, Senin (26/1/2026), petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (Immigration and Customs Enforcement/ICE) menembak seorang warga negara AS di Minneapolis hingga tewas pada Sabtu (24/1) waktu setempat. Peristiwa itu ini memicu protes keras dan kecaman dari para pemimpin lokal.

Dilansir Reuters, Departemen Keamanan Dalam Negeri menggambarkan insiden tersebut sebagai serangan. Otoritas AS mengatakan agen patroli perbatasan melakukan penembakan untuk membela diri setelah seorang pria mendekat dengan pistol dan dengan keras melawan upaya untuk melucuti senjatanya.

Namun, video dari saksi di tempat kejadian yang diverifikasi oleh Reuters menunjukkan pria yang diidentifikasi sebagai Alex Pretti (37), memegang telepon di tangannya, bukan senjata api. Dia saat itu disebut mencoba membantu para pengunjuk rasa lain yang telah didorong ke tanah oleh agen.

Video itu juga memperlihatkan Pretti sedang merekam agen federal mendorong seorang wanita dan mendorong orang lain ke tanah. Pretti kemudian bergerak di antara agen dan para wanita lalu mengangkat lengan kirinya untuk melindungi diri dan berbalik saat agen menyemprotnya dengan semprotan merica.

Saat Pretti berbalik dan mencoba membantu wanita yang terjatuh, agen imigrasi tersebut terus menyemprotnya. Saat Pretti mengangkat wanita itu, agen menariknya menjauh dari wanita tersebut dan Pretti tampak dipaksa berlutut oleh beberapa agen.

Salah satu dari mereka menarik sesuatu dari pinggang Pretti lalu dengan cepat menjauh dari tempat kejadian. Beberapa saat kemudian, seorang petugas dengan pistol yang diarahkan ke punggung Pretti menembakkan empat tembakan ke arahnya secara beruntun.

Beberapa tembakan lagi kemudian terdengar saat agen lain tampak menembak Pretti. Selanjutnya, semua agen mundur dari jasad Pretti.

Beberapa agen tampak menawarkan bantuan medis kepada Pretti saat dia terbaring di tanah. Sementara, agen lain menjaga agar warga lain tidak mendekat.

Insiden penembakan itu kemudian memicu ratusan massa menggelar demonstrasi untuk menghadapi agen bersenjata dan bertopeng, yang menggunakan gas air mata dan granat kejut. Demonstrasi juga terjadi di New York, Washington DC, dan San Francisco.

Hal itu juga meningkatkan ketegangan antara pejabat negara bagian dan federal AS. Para pejabat telah berselisih dengan pemerintahan Trump gara-gara penembakan warga negara AS lainnya, Renee Good, pada 7 Januari lalu. Mereka menolak mengizinkan pejabat lokal untuk berpartisipasi dalam penyelidikan insiden tersebut.

Kembali soal Pretti, keluarganya menyebut pria itu merupakan seorang perawat. Pihak keluarga mengatakan Pretti merupakan sosok yang baik.

“Pretti adalah jiwa yang baik hati yang sangat peduli pada keluarga dan teman-temannya dan mereka yang ia rawat di rumah sakit Veteran Affairs (VA) Minneapolis,” kata orang tuanya dalam sebuah pernyataan dilansir AFP, Minggu (25/1).

Trump Tuduh Walkot Minneapolis Hasut Pemberontakan

Presiden AS Donald Trump kemudian menuduh Wali Kota Minneapolis Jacob Frey dan Gubernur Minnesota Tim Walz telah ‘menghasut pemberontakan’. Dia menyebut kedua pejabat itu melakukan retorika sombong.

“Wali Kota dan Gubernur menghasut pemberontakan, dengan retorika-retorika mereka yang sombong, berbahaya dan arogan!” ujar Trump dalam pernyataannya via Truth Social.

Frey maupun Walz yang dituduh Trump, berasal dari Partai Demokrat. Sementara, Trump merupakan politikus partai Republik.

Trump menyalahkan kepemimpinan Partai Demokrat di Minneapolis dan Minnesota atas kematian dua warga AS yang ditembak agen federal ICE. Dia menyebut pemimpin setempat menolak untuk mematuhi penindakan keras terhadap imigrasi yang sedang berlangsung.

“Tragisnya, dua warga negara Amerika kehilangan nyawa mereka sebagai akibat dari kekacauan yang ditimbulkan oleh Partai Demokrat ini,” ucap Trump.

Trump telah mengancam akan menggunakan Undang-undang Pemberontakan yang akan memungkinkan dirinya mengerahkan pasukan militer AS ke negara bagian Minnesota untuk tujuan penegakan hukum. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), yang menaungi ICE, mengklaim Pretti ‘mendekati para petugas Patroli Perbatasan AS dengan membawa pistol semi-otomatis 9 mm’ dan ‘melakukan perlawanan keras’ ketika petugas berupaya melucuti senjata api yang dibawanya.

“Karena khawatir akan nyawanya dan nyawa serta keselamatan rekan-rekan petugas lainnya, seorang agen melepaskan tembakan untuk membela diri. Petugas medis di lokasi kejadian segera memberikan pertolongan medis kepada pelaku, tetapi dia dinyatakan meninggal di lokasi kejadian,” jelas DHS dalam pernyataan via media sosial X.

DHS juga mengatakan penembakan itu terjadi selama ‘operasi terarah di Minneapolis terhadap seorang imigran ilegal yang diburu karena penyerangan kekerasan’. Direktur Biro Investigasi Federal (FBI), Kash Patel, mengatakan warga sipil ‘tidak boleh membawa senjata api yang berisi beberapa magasin ke lokasi protes apa pun’.

Namun Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O’Hara, mengatakan kepada CBS News bahwa tidak ada larangan membawa senjata api yang dimiliki secara legal saat unjuk rasa. Pistol yang dibawa Pretti itu dimilikinya secara legal.

Wali Kota Minneapolis, Grey, kemudian mengkritik langkah Trump mengerahkan agen federal AS ke wilayahnya. Grey secara terang-terangan menyerukan Trump untuk ‘mengakhiri operasi ini dan menyadari bahwa hal ini tidak menciptakan keamanan di kota kami’.

“Berapa banyak lagi warga, berapa banyak lagi warga Amerika, harus tewas atau terluka parah agar operasi ini berakhir?” tanya Grey seperti dilansir The Guardian.

Seruan serupa juga disampaikan Walz sebagai Gubernur Minnesota. Dia meminta Trump menarik pasukan federal.

“Minnesota percaya pada hukum dan ketertiban. Kami percaya pada perdamaian. Dan kami percaya bahwa Trump perlu menarik 3.000 agennya yang tidak terlatih dari Minnesota sebelum mereka membunuh warga Amerika lainnya di jalanan,” cetusnya.

Simak juga Video: Aksi Protes di Minneapolis Meluas Buntut Agen ICE Tembak Warga Sipil

Trump Tuduh Walkot Minneapolis Hasut Pemberontakan

Presiden AS Donald Trump kemudian menuduh Wali Kota Minneapolis Jacob Frey dan Gubernur Minnesota Tim Walz telah ‘menghasut pemberontakan’. Dia menyebut kedua pejabat itu melakukan retorika sombong.

“Wali Kota dan Gubernur menghasut pemberontakan, dengan retorika-retorika mereka yang sombong, berbahaya dan arogan!” ujar Trump dalam pernyataannya via Truth Social.

Frey maupun Walz yang dituduh Trump, berasal dari Partai Demokrat. Sementara, Trump merupakan politikus partai Republik.

Trump menyalahkan kepemimpinan Partai Demokrat di Minneapolis dan Minnesota atas kematian dua warga AS yang ditembak agen federal ICE. Dia menyebut pemimpin setempat menolak untuk mematuhi penindakan keras terhadap imigrasi yang sedang berlangsung.

“Tragisnya, dua warga negara Amerika kehilangan nyawa mereka sebagai akibat dari kekacauan yang ditimbulkan oleh Partai Demokrat ini,” ucap Trump.

Trump telah mengancam akan menggunakan Undang-undang Pemberontakan yang akan memungkinkan dirinya mengerahkan pasukan militer AS ke negara bagian Minnesota untuk tujuan penegakan hukum. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), yang menaungi ICE, mengklaim Pretti ‘mendekati para petugas Patroli Perbatasan AS dengan membawa pistol semi-otomatis 9 mm’ dan ‘melakukan perlawanan keras’ ketika petugas berupaya melucuti senjata api yang dibawanya.

“Karena khawatir akan nyawanya dan nyawa serta keselamatan rekan-rekan petugas lainnya, seorang agen melepaskan tembakan untuk membela diri. Petugas medis di lokasi kejadian segera memberikan pertolongan medis kepada pelaku, tetapi dia dinyatakan meninggal di lokasi kejadian,” jelas DHS dalam pernyataan via media sosial X.

DHS juga mengatakan penembakan itu terjadi selama ‘operasi terarah di Minneapolis terhadap seorang imigran ilegal yang diburu karena penyerangan kekerasan’. Direktur Biro Investigasi Federal (FBI), Kash Patel, mengatakan warga sipil ‘tidak boleh membawa senjata api yang berisi beberapa magasin ke lokasi protes apa pun’.

Namun Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O’Hara, mengatakan kepada CBS News bahwa tidak ada larangan membawa senjata api yang dimiliki secara legal saat unjuk rasa. Pistol yang dibawa Pretti itu dimilikinya secara legal.

Wali Kota Minneapolis, Grey, kemudian mengkritik langkah Trump mengerahkan agen federal AS ke wilayahnya. Grey secara terang-terangan menyerukan Trump untuk ‘mengakhiri operasi ini dan menyadari bahwa hal ini tidak menciptakan keamanan di kota kami’.

“Berapa banyak lagi warga, berapa banyak lagi warga Amerika, harus tewas atau terluka parah agar operasi ini berakhir?” tanya Grey seperti dilansir The Guardian.

Seruan serupa juga disampaikan Walz sebagai Gubernur Minnesota. Dia meminta Trump menarik pasukan federal.

“Minnesota percaya pada hukum dan ketertiban. Kami percaya pada perdamaian. Dan kami percaya bahwa Trump perlu menarik 3.000 agennya yang tidak terlatih dari Minnesota sebelum mereka membunuh warga Amerika lainnya di jalanan,” cetusnya.

Simak juga Video: Aksi Protes di Minneapolis Meluas Buntut Agen ICE Tembak Warga Sipil