menetapkan lima orang tersangka terkait penyediaan 21 situs judi online (judol). Para tersangka dijerat dengan pasal berlapis.
Para tersangka dijerat dengan Pasal 45 ayat 3 juncto Pasal 27 ayat 2 UU Nomor 1 Tahun 2024 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Mereka juga disangkakan dengan Pasal 82 dan/atau Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2021 tentang Tindak Pidana Transfer Dana, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 juncto Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang serta Pasal 303 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP yang disesuaikan dengan Pasal 426 ayat 1 huruf B dan C juncto Pasal 21 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
“Dengan ancaman pidana penjara maksimal 20 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Himawan Bayu Aji di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Lima tersangka dalam kasus ini ialah MMF (30), MR (33), QF (29), AL (33), dan WK (45). Mereka ditangkap pada Desember 2025.
Himawan mengatakan sindikat ini juga mendirikan 17 perusahaan fiktif dalam mendukung operasional 21 situs judi online yang mereka bentuk. Rekening dari belasan perusahaan fiktif itu digunakan dalam menampung transaksi para pengguna situs judol.
“Ditemukannya 17 perusahaan ataupun PT-PT yang fiktif, yang sengaja dibuat untuk memfasilitasi transaksi perjudian online,” katanya.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Para tersangka awalnya mendirikan perusahaan fiktif dengan dokumen dan identitas palsu. Dalam perusahaan fiktif itu, mereka menjabat sebagai direksi. Berbekal data perusahaan palsu itu, pelaku kemudian membuka rekening bank.
“Rekening-rekening atas nama perusahaan fiktif yang kemudian didaftarkan sebagai merchant pada penyedia jasa pembayaran untuk memfasilitasi transaksi pemain di 21 website perjudian online tersebut,” kata Himawan.
Polisi telah melacak transaksi dari kelima tersangka yang tersedia di rekening 17 perusahaan fiktif itu. Polisi berhasil menyita aset senilai Rp 59 miliar.
“Dari hasil pengungkapan jaringan ini, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil melakukan pemblokiran dan penyitaan dana dengan total Rp 59.126.460.631,” tutur Himawan.
Kelima tersangka saat ini telah ditahan di rutan Bareskrim Polri. Himawan memastikan penyidikan kasus ini masih akan dikembangkan untuk mengungkap adanya pelaku lainnya serta aset-aset tersangka yang belum disita.
“Artinya masih dalam pengembangan kami mendalami keterlibatan pihak-pihak lain, terutama pihak yang memfasilitasi pembuatan dokumen perusahaan fiktif yang terlibat praktik perjudian online di Indonesia,” pungkas Himawan.







